Skin booster vs filler sama-sama injectable, tetapi treatment goal berbeda. Skin
booster biasanya dipakai untuk hydration, texture, elasticity, dan overall skin quality. Filler lebih
berorientasi pada volume, projection, dan structural support.
Perbedaan ini membantu menghindari kesalahan seperti memakai filler untuk kulit kusam atau
berharap skin booster membentuk chin projection.
Skin booster
Produk dapat mengandung HA, polynucleotide, amino acid, atau bahan lain. Karena itu, tidak
semua skin booster identik.
Evidence injectable HA menunjukkan improvement pada hydration, firmness, texture, radiance,
dan elasticity.
Filler
HA filler mempunyai rheological properties berbeda untuk kebutuhan movement, support, dan
projection.
Area seperti chin, cheek, temple, jawline, atau lips dapat membutuhkan filler yang berbeda.
Skin quality vs structure
Dehydrated skin tanpa volume loss lebih dekat dengan skin-quality strategy. Localized hollowing
atau chin retrusion lebih dekat dengan structural correction.
Jika concern campuran, sequencing dapat dilakukan.
Anti-aging
Facial aging tidak hanya skin. Volume, muscle, laxity, fat, dan structural change ikut berperan.
Skin booster dan filler hanya menangani sebagian komponen.
Natural result
Keduanya dapat terlihat natural bila treatment sesuai indikasi. Filler tidak otomatis menyebabkan
puffy face, dan skin booster tidak otomatis selalu lebih natural.
Amount, placement, product selection, dan facial assessment menentukan.
Risiko
Keduanya dapat menyebabkan bruising, swelling, tenderness. Filler memiliki risiko vascular
occlusion yang perlu dipahami.
Product-specific contraindications dan technique juga penting.
Kesimpulan
Inti artikel ini adalah bahwa skin booster vs filler tidak sebaiknya dipahami sebagai keputusan
treatment yang berdiri sendiri. Pendekatan IBC perlu tetap mengikuti Concern -> Possible Cause ->
Assessment -> Treatment Option, dengan fokus pada Natural Look, Facial Harmony, Personalized
Treatment, dan hasil yang realistis.
Hasil treatment dapat berbeda pada setiap pasien. Informasi ini bersifat edukatif dan tidak
menggantikan konsultasi serta pemeriksaan dokter